CARA BERBUSANA DALAM ISLAM

Daftar isi [Buka]
Pakaian merupakan kebutuhan primer atau pokok bagi setiap manusia. Manusia menggunakan pakaian untuk melindungi tubuhnya dari gangguan yang berasal dari luar.

Di dalam Islam juga dibahas tentang pakaian yang sesuai dengan syariat Islam. Laki-laki dan perempuan memiliki batasan tersendiri dalam berpakaian. Khususnya wanita harus menutup auratnya agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Cara Berbusana Dalam Islam

Membuka Relung Hati

Sebagaimana disadari bahwa ragam berpakaian akan terus berkembang seiring perkembangan zaman dan trend baru budaya pakaian yang umumnya diperagakan oleh para perancang busana muslimah di tanah air. Permasalahannya adalah model pakaian/busana manakah yang benar dan sesuai syariat Islam ? Mari kita cermati fenomena berpakaian di kalangan perempuan saat ini, dari cara berpakaian yang menjadi trend fashion, apakah sudah sesuai dengan ketentuan yang disyariatkan ?


A. Pengertian Busana Muslim dan Menutup Aurat

Busana muslim adalah busana yang sesuai dengan ajaran Islam dan pengguna busana tersebut mencerminkan seorang muslim/muslimah yang taat kepada ajaran agamanya dalam hal tata cara berbusana. Dengan kata lain, busana muslim adalah busana atau pakaian yang dapat menutup aurat yang diwajibkan agama untuk menutupinya, guna kemaslahatan dirinya dan orang lain di mana pun ia berada.

Makna aurat secara bahasa berarti malu, aib, dan buruk. Adapun secara istilah, aurat adalah sesuatu yang harus dijaga oleh setiap manusia, baik laki-laki mapun perempuan dan tidak boleh dibuka untuk diperlihatkan kepada orang lain yang bukan mahram. Aurat laki-laki muslim adalah bagian tubuh diantara pusar hingga lutut. Sedangkan aurat bagi perempuan muslimah, menurut mayoritas ulama adalah seluruh anggota tubuh, kecuali muka atau wajah dan kedua telapak tangan.

B. Dalil-Dalil Tentang Perintah Berbusana Sesuai Syariat Islam

Banyak dalil, baik dari al-Qur'an maupun hadis yang memerintahkan umat Islam untuk mengenakan busana muslim/muslimah. Di antaranya adalah sebagai berikut:

1. Q.S. Al-Ahzaab [33] : 59     >> Teks ayat dan arti baca disini

Kandungan ayat ini adalah menjelaskan bahwa tujuan Allah SWT memerintahkan perempuan berhijab adalah ada dua, yaitu: (1) supaya kaum perempuan mukminat lebih bisa dikenali dan menjadi faktor pembeda dari perempuan tidak beriman, dan (2) lebih terjaga muruah atau kewibawaan karakter dan watak keperempuannya, sebagaimana digambarkan dalam ayat di atas seperti tidak disakiti / gangguan.

2. Q.S. Al-A'raaf [7] : 26     >> Teks ayat dan terjemah baca disini

Ayat ini menunjukkan perintah menutup aurat. Dijelaskan bahwa fungsi berpakaian berdasarkan ayat ini adalah untuk penutup aurat dan penghias diri. Tetapi ketakwaan (amal saleh dan akhlak yang baik) adalah pakaian terbaik yang dapat memelihara diri dari siksaan.

3. Q.S. An-Nuur [24] : 31     >> Teks ayat dan terjemah baca disini

Kandungan ayat ini diantaranya adalah :
  • menjelaskan adannya suatu perintah untuk selalu menjaga pandangan, kemaluan, dan aurat. Dimana hal tersebut merupakan kehormatan diri sendiri yang harus tetap dijaga dengan baik. 
  • menjadikan suatu pengingat bagi kita semua, jika Allah itu Maha Kuasa atas segalannya, shingga segala perbuatan yang kita lakukan di bumi ini akan senantiasa diketahui oleh-Nya.
  • adannya suatu perintah atau ajakan yang menandakan kita harus segera bertaubat atas segala dosa yang telah kita perbuat selama ini.
4.  hadis dari Ummu ‘Aţiyyah

Cara berbusana

Dari Umu ‘Atiyah, ia berkata, “Rasulullah saw. memerintahkan kami untuk keluar pada Hari Fitri dan Adhha, baik gadis yang menginjak akil balig, wanita-wanita yang sedang haid, maupun wanita-wanita pingitan. Wanita yang sedang haid tetap meninggalkan śalat, namun mereka dapat menyaksikan kebaikan dan dakwah kaum Muslim. Aku bertanya, ‘Wahai Rasulullah saw., salah seorang di antara kami ada yang tidak memiliki jilbab?’ Rasulullah saw. menjawab, ‘Hendaklah saudarinya meminjamkan jilbabnya kepadanya.” (H.R. Muslim).

Kandungan hadis di atas adalah perintah Allah Swt. kepada para wanita untuk menghadiri prosesi śalat ‘Idul Fithri dan Idul Adĥa, walaupun dia sedang haid, sedang dipingit, atau tidak memiliki jilbab. Bagi yang sedang haid, maka cukup mendengarkan khutbah tanpa perlu melakukan śalat berjama’ah seperti yang lain. Wanita yang tidak mempunyai jilbab pun dapat meminjamnya dari wanita lain. Hal ini menunjukkan pentingnya dakwah/khutbah kedua śalat ‘idain.

C. Ketentuan Berpakaian Menurut Syariat Islam

Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa berdasarkan Q.S. Al-A'raaf [7] : 26, fungsi pakaian di bagi menjadi dua. Pertama adalah untuk menutup aurat. Kedua adalah sebagai perhiasa. Sebagai penutup aurat, Islam menetapkan dengan jelas kriteria-kriteria pakaian disebut sebagai pakaian yang islami. Secara umum, kriteria-kriteria tersebut adalah :
    Cara Berbusana Dalam Islam
  1. tidak terbuka atau tutup aurat
  2. tidak transparan
  3. tidak ketat
  4. tidak menyerupahi lawan jenis
Keempat kriteria ini perlu diperhatikan ketika memilih, membeli, dan menggunakan pakaian. Perempuan yang menggunakan “hijab” tidak akan ada gunanya kalau pakaian yang mereka gunakan transparan dan ketat. Begitu pula laki-laki, tidak ada gunanya memakai jubah, kalau tembus pandang dan auratnya terlihat oleh orang lain.

Selain mengetahui kriteria-kriteria berpakaian yang islami, perlu diketahui juga adab-adab berpakaian agar bisa bernilai ibadah. Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad dalam kitabnya berjudul Risâlatul Mu‘âwanah wal Mudzâharah wal Muwâzarah (Dar Al-Hawi, 1994, hal. 82-83), menjelaskan pokok-pokok adab berpakaian sebagai berikut :

  1. Sebelum memulai berpakaian hendaklah membaca Basmallah (bismillâhirrahmânirrahîm) terlebih dahulu
  2. jika lupa mengucapkan basmalah di awal, maka ucapkanlah segera ketika ingat dengan membaca bismillâhi fi awwalihi wa âkhirihi (Dengan nama Allah pada awal dan akhirnya)
  3. ketika berpakaian niatilah menutup aurat yang itu merupakan perintah Allah
  4. mulailah dengan sisi kanan pada waktu mengenakan dan sisi kiri pada waktu melepas.
  5. angkatlah sarung dan baju gamis sampai batas pertengahan batang kaki, atau tidak melampaui mata kaki.
  6. bagi perempuan boleh memanjangkan pakaiannya hingga menyentuh tanah. Namun perlu hati-hati agar tidak terkena najis
  7. panjangkan lengan baju atau gamis sampai pada pergelangan tangan atau sampai ujung-ujung jari, dan jangan melampaui batas itu. Ini berlaku terutama untuk perempuan sebab terkait langsung dengan aurat. Bagi laki-laki tidak harus seperti itu. 
  8. jangan memiliki pakaian melebihi jumlah yang diperlukan. Artinya pakaian-pakaian yang memang sudah tidak diperlukan supaya diberikan kepada pihak lain yang masih kekurangan pakaian.
  9. jangan memilih pakaian yang terlalu bagus dan juga jangan yang terlalu buruk; pilihlah yang pertengahan atau sedang-sedang saja. Artinya, hal terbaik dalam berpakaian sehari-hari adalah mengenakan pakaian yang sedang-sedang saja, dan bukan pakaian yang terbaik dan apalagi yang terburuk.
  10. jangan membuka aurat seluruhnya ataupun sebagian, kecuali ada perlu.
  11. ketika ada keperluan untuk membukanya ucapkanlah bismillâhil ladzî lâilâha illâ huwa (Dengan nama Allah yang tiada tuhan kecuali Dia).
  12. setiap kali selesai mengenakan pakaian ucapkanlah alhamdulillâhil ladzî kasânî hâdzâ min ghairi haulin minnî walâ quwwatin (Segala puji Allah yang telah memberiku pakaian ini tanpa daya dan kekuatan dariku).
Itulah kedua belas adab berpakaian menurut Allamah Sayyid Abdullah bin Alawi Al-Haddad yang pada intinya menekankan bahwa berpakaian merupakan ibadah karena merupakan perintah dari Allah subhanu wata’la. Tujuannya adalah untuk menutup aurat baik bagi laki-laki maupun perempuan.

D. Catatan Akhir

Sebagai kesimpulan perlu ditegaskan bahwa ajaran dan makna jilbab mengandung ajakan dengan penuh kesadaran menumbuhkan kepedulian dan kepekaan bersosial. Menjadi manusia yang menutupi segala kesalahan dan khilaf serta perilaku buruk orang lain. Karena keburukan bukan untuk dibicarakan, tetapi bagaimana diperbaiki. Pesan sosial jilbab selanjutnya menjadi manusia yang senantiasa melindungi manusia dan alam sekitar. Kedua makna dan pesan kemanusiaan dari jilbab ini merupakan visi dam misi seorang beragama pada aspek kemaslahatan yang bersifat universal. Karena alam dan seisinya ini menjadi rahmat bagi manusia, serta tidak ada satupun yang sia-sia. Oleh karenanya jilbab isn't just what you're wearing but it's also what you do and say. Bahwa jilbab bukan hanya tentang apa yang kamu kenakan, tapi juga tentang apa yang kamu lakukan dan katakan.

    Ditulis Oleh :Sodikin Sc | My Haka Blog

    Terima kasih Anda telah membaca artikel yang berjudul CARA BERBUSANA DALAM ISLAM, Semoga artikel ini dapat bermanfaat dan berguna untuk Anda. Kritik dan saran silahkan kirim melalui kotak komentar di bawah ini. Jangan lupa share jika dirasa bermanfaat ....

    :: Thank you for visiting ! ::

    Tampilkan Komentar
    Sembunyikan Komentar

    5 Responses to "CARA BERBUSANA DALAM ISLAM"

    1. Replies
      1. Terima kasih pak atas komentar dan kunjungannya ... Salam kenal dan sukses sll buat bapak ..

        Delete
    2. mantep pa, ini mah sudah blogger profesional pa

      ReplyDelete
      Replies
      1. Biasa saja bunda, saya juga masih sama2 bljar. Temen2 yang lain di group sdh ada yang pake tema pihak 3 malah. Saya masih pake tema sederhana dengan sedikit polesan di widgetnya.

        Terima kasih atas kunjungannya, sehat dan sukses sll ya bund !

        Delete
    3. Terima kasih Bu atas komentarnya ... Hanya sekedar berbagi khazanah keislaman yang sangat indah dan rasional

      ReplyDelete
    Budayakan komentar yang santun yah Gaes

    Iklan Tengah Artikel 1

    Iklan Tengah Artikel 2